Skip to content
Go back

Bride for Cursed's Dragon King - Chapter 1

Chapter 1: Kutukan yang Menelan Para Pengantin

Selama seribu tahun, Klan Naga hidup berdampingan dengan manusia. Mereka adalah makhluk mitos yang agung, memiliki kekuatan purba yang luar biasa dan menjadi pelindung keseimbangan dunia. Di masa itu, langit sering kali dipenuhi oleh kepakan sayap-sayap raksasa yang berkilau di bawah sinar matahari, sementara manusia hidup makmur di bawah perlindungan mereka.

Namun, keagungan selalu melahirkan rasa takut. Dan dari rasa takut, lahirlah pengkhianatan. Raja manusia yang berkuasa saat itu merasa terancam. Dia memandang takhta fana miliknya dan merasa kerdil di hadapan keabadian kaum naga. Dia tahu, secara militer, manusia tidak akan pernah bisa menang tanding.

Maka, dia memilih senjata para pengecut: racun.

Raja manusia diam-diam menemui seorang penyihir hitam di hutan terlarang untuk menciptakan racun paling mematikan yang pernah ada. Racun itu kemudian disamarkan sebagai hadiah diplomatik berupa anggur langka berumur ratusan tahun, lalu dikirimkan ke jantung wilayah naga.

Ramuan itu tidak membunuh kaum naga secara langsung. Dampaknya jauh lebih kejam dari kematian. Racun itu mengincar inti sihir mereka—yaitu garis keturunan. Bagi Klan Naga, hanya darah bangsawan murni yang bisa bangkit dan naik takhta menjadi Raja Naga selanjutnya.

Racun itu secara permanen merusak biologis mereka. Akibatnya, sementara naga biasa masih bisa berkembang biak, garis keturunan raja dikutuk untuk tidak akan pernah bisa memiliki pewaris.

Saat kebenaran itu terungkap, langit berubah menjadi merah darah karena murka kaum naga. Tanpa ampun, kaum naga menyerbu ibu kota manusia. Mereka meratakan istana dan mengeksekusi raja pengkhianat itu di depan rakyatnya sendiri.

Namun, balas dendam tidak bisa menyembuhkan racun yang terlanjur mengalir. Sisa-sisa manusia yang ketakutan dan tidak tahu apa-apa tentang dosa penguasa mereka hanya bisa berlutut, menangis, dan memohon ampunan di atas puing-puing yang membara.

Di tengah abu dan jeritan itu, seorang ahli nujum agung manusia maju ke depan. Dengan tubuh gemetar, dia menyalurkan penglihatan terakhirnya menjadi sebuah ramalan: “Darah sang pengkhianat telah mengunci garis keturunan, namun darah yang suci akan membuka kembali hati yang mati. Seorang pengantin manusia, yang dipilih oleh takdir, harus dibawa ke wilayah naga untuk mematahkan kutukan.”

Demi meredam amarah makhluk-makhluk mistis itu, manusia akhirnya menyepakati perjanjian yang kelam. Setiap tahun, sepuluh gadis perawan dari berbagai penjuru kota manusia harus dikirim ke tanah naga sebagai kandidat pengantin.

Namun, ramalan adalah majikan yang kejam.

Manusia tidak menyadari bahwa kutukan itu telah mengubah sihir royal milik Raja Naga menjadi sangat tidak stabil. Hawa panas di dalam tubuhnya, yang seharusnya berfungsi untuk mematangkan telur naga dan melindungi keturunan, berubah menjadi sepekat energi matahari.

Gadis-gadis manusia yang dikirim selama ini tidak memiliki kecocokan darah, tubuh fana mereka sama sekali tidak mampu menahan hawa panas tersebut. Satu per satu, dekade demi dekade, para pengantin itu menemui ajal yang mengerikan.

Begitu Raja Naga mengulurkan tangan untuk menyentuh mereka, kulit mereka langsung melepuh, terbakar dari dalam.

Seratus tahun berlalu. Seribu pengantin telah dikirim. Dan seribu pengantin pula telah tewas.

Harapan tidak hanya memudar; harapan telah berubah menjadi abu.

Di dalam Istana Obsidian yang megah namun mencekam, udara terasa begitu panas dan menyesakkan. Seorang gadis muda berdiri gemetar di depan takhta, gaun sutra putihnya sudah basah kuyup oleh keringat dingin. Air matanya mengalir, membayangkan kematian mengerikan yang sebentar lagi menjemputnya.

Sang Raja Naga duduk di kegelapan takhta, matanya menyala seperti bara api yang hampir padam. Jauh di lubuk hatinya, dia sama sekali tidak menginginkan ini. Dia membenci manusia karena pengkhianatan masa lalu mereka, dan dia jauh lebih membenci mereka karena terus-menerus mengirimkan gadis-gadis polos ini ke tempat pembantaiannya.

Perlahan, sang raja mengulurkan satu tangannya ke arah gadis itu. Ada secercah harapan kecil yang tersisa di hatinya, berharap bahwa kali ini—hanya kali ini saja—segalanya akan berbeda.

Ujung jarinya menyentuh lembut pipi gadis itu.

Pengantin itu menjerit histeris—lalu berubah menjadi tumpukan abu di tangannya… Persis seperti sembilan ratus sembilan puluh sembilan pengantin sebelum dirinya.


Share this post:
Share this post:

Discussion & Reactions



Previous Post
Bride for Cursed's Dragon King - Chapter 2
Next Post
Bride for Cursed's Dragon King - Prologue