Chapter 2: Raja yang Tak Bisa Menyentuh
Kane, sang Raja Naga terakhir, hanya bisa menatap kosong ke arah gundukan abu abu-abu di atas lantai marmer hitamnya.
“Bersihkan,” perintah Kane. Suaranya berat, dalam, dan bergetar rendah hingga membuat fondasi ruang takhta ikut bergetar.
Dia tidak menunggu para menterinya membungkuk hormat. Kane langsung berbalik, jubah hitam tebalnya berkibar seperti asap pekat yang bergulung.
Kane adalah seorang raja dari sebuah kekaisaran yang perlahan-lahan sedang sekarat. Dia dikenal dingin, menjaga jarak, dan benar-benar dipenuhi rasa muak terhadap ras manusia. Di matanya, manusia adalah makhluk egois yang telah melumpuhkan masa depan bangsanya.
Dan sekarang, mereka justru membanjiri istananya dengan gadis-gadis yang menangis ketakutan—gadis-gadis yang hanya berfungsi sebagai pengingat betapa monster dan terkutuknya diri Kane.
Kane benar-benar kesepian.
Kesepian yang teramat sangat, yang menggerogoti jiwanya selama satu abad. Dia tidak bisa memeluk seorang kekasih. Dia tidak bisa menimang seorang anak. Dia adalah perwujudan dewa yang hanya membawa kematian bagi siapa saja yang berani mendekat.
Beban emosional dari isolasi selama seratus tahun ini mendadak terasa begitu menghimpit dadanya. Dia butuh keluar dari tempat ini sekarang juga, sebelum dia kehilangan kendali dan membakar istananya sendiri hingga rata dengan tanah. Tanpa memedulikan pengawal yang mencoba menahannya, Kane melangkah lebar menuju balkon tertinggi istana.
Dengan satu hentakan energi gelap yang meledak, wujud manusianya hancur. Sebagai gantinya, seekor naga raksasa berwarna hitam legam melesat ke udara. Sisik-sisiknya berkilau seperti batu obsidian yang dipoles, dan bentangan sayapnya yang masif menciptakan bayangan besar yang menutupi seluruh lembah.
Dia terbang tinggi, membelah awan dan membiarkan angin malam yang dingin menusuk sisik-sisiknya. Kane terbang jauh melampaui batas wilayahnya, menyeberang masuk ke daerah yang dihuni oleh manusia. Setiap kali tekanan di kepalanya sudah terlalu berat, Kane selalu mencari air.
Kane sangat menyukai sungai-sungai di wilayah manusia—cara air itu mengalir melewati berbagai kota, terasa begitu dingin dan tidak peduli pada urusan politik monster maupun manusia. Air adalah satu-satunya hal yang bisa menenangkan jiwanya yang membara.
Melihat sebuah kelokan sungai yang terisolasi dan dikelilingi oleh hutan belantara yang lebat, Kane menukik turun. Dia mengubah wujudnya kembali menjadi manusia saat masih di udara, lalu mendarat dengan mulus di tepi sungai yang berlumpur.
Setelah melepas tunik hitamnya, Kane melangkah masuk ke dalam aliran air sungai yang deras dan sedingin es. Rasanya sangat luar biasa di kulitnya yang selalu terasa panas seperti demam tinggi. Dia memejamkan mata emasnya yang indah, membiarkan arus sungai menghanyutkan sisa-sisa bau abu dari istananya.
Tiba-tiba, suara dahan pohon yang patah memecah keheningan hutan.
Mata emas Kane langsung terbuka. Insting naganya menegang. Dari balik semak-semak lebat di tepi hutan, terdengar suara gemerisik yang panik, disusul oleh geraman rendah yang sangat mengerikan dari seekor beruang grizzly raksasa.
Dan kemudian, Kane mendengar suara napas yang terengah-engah dan pekikan tertahan dari seorang manusia. Seorang gadis mendadak muncul dari balik pepohonan, berlari dengan mata melebar ketakutan saat beruang itu meloncat mengejarnya.
Kane melangkah maju untuk menyelamatkannya… Meski dia tahu betul satu sentuhan saja bisa membunuh gadis itu.