Skip to content
Go back

Bride for Cursed's Dragon King - Chapter 8

Chapter 8: Patahnya Kutukan

Kane menatap jauh ke dalam sepasang mata cokelat Elara. Di sana, dia tidak menemukan secercah pun rasa takut. Yang ada hanyalah sebuah penerimaan yang tulus dan tekad yang begitu kuat.

Pertama kalinya ada manusia yang bersedia maju menjadi pengantin Naga, dengan resiko akan mati terbakar.

“Kalau kamu sampai mati,” bisik Kane, suaranya mendadak tercekat oleh luapan emosi yang begitu pekat, “maka jiwaku pun akan ikut terbakar menjadi abu bersamamu malam ini.” Sambil memejamkan matanya, Kane akhirnya menurunkan tangannya. Telapak tangannya yang besar dan penuh guratan kapalan bertemu dengan jari-jari Elara yang lembut dan mungil. Mereka saling menautkan jari-jari mereka, menggenggam dengan erat.

Dunia seolah-olah berhenti berputar pada detik itu juga.

Keheningan yang mencekam membentang di seluruh area labirin. Angin malam yang tadinya berembus mendadak berhenti total. Elara tidak menjerit kesakitan. Tubuhnya juga tidak terbakar.

Sebaliknya, pada saat kulit mereka bersentuhan sepenuhnya, sebuah gelombang kejut sihir berwarna emas yang sangat indah meledak dari tautan tangan mereka. Hawa panas yang tadinya terasa menyengat dan menekan dari tubuh Kane mendadak melunak, berubah menjadi sebuah kehangatan yang sangat menenangkan dan memulihkan jiwa.

Kutukan purba itu mendadak bereaksi. Jauh di atas langit istana, awan hitam pekat yang telah menutupi Wilayah Naga selama seratus tahun mulai retak dan terbelah. Cahaya keemasan yang sangat terang memancar dari tengah halaman istana, berdesir melewati seluruh lembah dan pegunungan. Tanaman malam yang tadinya layu di dalam taman labirin mendadak mekar seketika, memancarkan warna-warni yang sangat indah.

Kane membuka sepasang mata emasnya, menatap tautan tangan mereka dengan rasa takjub yang luar biasa.

Ramalan kuno dari dukun manusia itu ternyata tidak lengkap. Ada satu kebenaran paling krusial yang terlewat dari kata-katanya. Kutukan itu tidak akan pernah bisa dipatahkan oleh sebuah pengorbanan yang dipaksakan. Kutukan itu tidak hanya membutuhkan seorang pengantin manusia—kutukan itu menuntut sebuah pilihan yang sukarela. Kutukan itu membutuhkan seorang manusia yang mau melihat jauh ke dalam jati diri sang naga, melampaui sisik dan apinya, lalu dengan tulus menerima hati sang naga.

Untuk pertama kalinya dalam satu abad, Kane menarik seorang manusia ke dalam dekapan hangatnya. Dia memeluk tubuh Elara dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut gelap gadis itu, merengkuhnya tanpa ada lagi rasa takut akan menyakiti.

Elara membalas pelukan itu tidak kalah erat, menyandarkan kepalanya di dada tegap Kane, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup kencang. Semua rasa sakit akibat pengkhianatan Julien di masa lalunya mendadak menguap begitu saja, tidak lagi penting. Di dalam dekapan sang Raja Naga, Elara merasa sangat aman. Dia merasa sangat diinginkan.

“Kamu aman bersamaku,” bisik Kane, suaranya terdengar penuh dengan janji perlindungan yang mutlak. “Kamu tidak perlu berlari lagi dari siapa pun.” Kutukan itu telah patah. Garis keturunan raja telah kembali pulih. Namun, saat Kane mendekap tubuh Elara di bawah langit malam yang kini dipenuhi oleh hamparan bintang-bintang yang cerah, dia sama sekali tidak peduli tentang urusan kerajaan, takhta, ataupun ramalan kuno.

Selama seratus tahun, dia hidup sebagai seorang raja yang dikutuk menjadi monster.

Namun, di dalam genggaman tangan gadis ini… Dia akhirnya kembali menjadi seorang pria biasa.

~ Tamat.


Share this post:
Share this post:

Discussion & Reactions



Previous Post
Wedding Disaster - Prologue
Next Post
Bride for Cursed's Dragon King - Chapter 7