Chapter 1: Anak yang Tak Diinginkan
Malam ketika sepasang anak kembar itu lahir, langit di atas Desa Oakhaven sama sekali tidak menyisakan ruang untuk bintang. Hujan badai yang dahsyat menghantam jendela kayu kediaman milik Lord Alden, seorang pedagang kain yang cukup terpandang. Di dalam kamar, udara terasa pekat oleh aroma keringat, darah, dan minyak lampu yang meredup.
Seorang dukun beranak tua bernama Griselda, yang memiliki jemari sekaku akar pohon, menyambut bayi pertama ke dunia. Tangisan sehat yang melengking langsung memecah ketegangan di dalam ruangan.
“Seorang putri, Tuanku,” kata Griselda, menyeka sisa darah dari kulit bayi yang putih bersih tanpa cela. “Sempurna. Seperti setetes susu di pagi hari.”
Lord Alden tersenyum lebar. Matanya berkilat penuh ambisi serakah. Dia sudah bisa membayangkan aliansi menguntungkan yang bisa dibawa oleh anak sesempurna ini untuk bisnis tekstilnya kelak. Bayi perempuan itu diberi nama Tania.
Namun, proses persalinan belum selesai. Satu jam kemudian, tangisan kedua kembali terdengar di tengah gemuruh petir yang memudar. Griselda menyambut bayi kedua itu, tetapi begitu dia membawanya mendekat ke arah lilin yang temaram, wanita tua itu terkesiap. Tubuhnya mendadak gemetar hebat.
“Ada apa?” tuntut Alden sambil melangkah maju, dahinya berkerut dalam. “Apa dia seorang laki-laki?”
“Bukan, Tuanku,” bisik Griselda, suaranya bergetar ketakutan. “Dia..”
Di dalam kain bedung itu, berbaringlah Tamara. Berbeda jauh dengan saudara kembarnya, kulit Tamara tidak mulus. Di pipi kanannya, membentang dari garis rahang hingga ke sudut matanya, terdapat sebuah tanda lahir berwarna hitam pekat seperti tinta. Bentuknya menyerupai bulan sabit yang sempurna, terlihat sangat kontras dan mengerikan di atas kulit bayinya yang merah.
Di daerah mereka, tanda lahir berwarna gelap sejak lahir adalah sebuah petaka. Masyarakat percaya bahwa jiwa anak tersebut telah disentuh oleh binatang bayangan—sebuah pertanda buruk yang akan membawa nasib sial, gagal panen, dan kebangkrutan.
Alden melangkah mundur seolah-olah baru saja melihat seekor ular berbisa. “Bawa dia keluar dari rumahku sekarang juga,” desisnya dengan wajah pucat pasi. “Kalau sampai orang-orang desa tahu ada anak terkutuk lahir di bawah atapku, jalur perdaganganku akan dikucilkan. Reputasiku akan hancur total!”
Ibu Tamara, yang sudah terkuras energinya dan tampak lemah di atas ranjang, hanya bisa memalingkan wajahnya ke dinding. Dia menolak untuk melihat putri keduanya tersebut.
“Tuanku,” ucap Griselda pelan, matanya menyiratkan rasa iba saat bayi bertanda hitam itu menggapai-gapaikan jemari mungilnya di udara yang dingin. “Aku tinggal di dalam lubuk Hutan, jauh dari kasak-kusuk manusia yang penuh takhayul. Jika Anda bersedia memberiku tujuh puluh sol setiap bulan untuk biaya makan dan gandum, aku akan merawatnya. Dia tidak akan pernah mengusik rumah ini lagi.”
Alden tidak berpikir dua kali. Dia langsung melemparkan sekantung koin ke tangan wanita tua itu. “Bawa dia pergi. Kalau dia mati di dalam hutan, jangan pernah bawa jasadnya kembali ke sini. Bagi dunia, Tania adalah putri tunggal yang aku miliki.”
Maka, bahkan sebelum dia sempat membuka matanya untuk melihat wajah sang ayah, Tamara sudah dibawa pergi jauh ke dalam hutan belantara yang dingin dan tak kenal ampun. Dia tumbuh besar di sebuah gubuk kayu kecil, tempat di mana rimbunnya pepohonan purba menghalangi teriknya sinar matahari.
Griselda bukanlah wanita yang kejam, namun dia adalah sosok yang dingin dan menjaga jarak. Dia hanya mengajari Tamara cara untuk bertahan hidup. Pada usia tujuh tahun, Tamara sudah tahu akar pohon mana yang bisa meredakan demam dan buah beri mana yang bisa menghentikan detak jantung seketika. Dia belajar cara melacak jejak rusa dan mendengarkan pergerakan angin
Namun, dia juga belajar untuk menatap bayangan dirinya sendiri di atas permukaan air sungai hutan yang jernih.
Dia sering menelusuri tanda lahir berbentuk bulan sabit hitam di pipinya, merasakan teksturnya yang sedikit berbeda dengan kulitnya yang lain. Dia tahu betul bahwa keluarganya hidup makmur tepat di balik batas luar hutan ini. Dia tahu dia memiliki saudara kembar yang mengenakan pakaian sutra mahal, sementara dirinya sendiri hanya memakai kain goni yang penuh tambalan.
Pernah suatu kali, ketika usianya dua belas tahun, Griselda bertanya mengapa mereka tidak pernah menyentuh koin-koin perak yang dikirimkan ayahnya setiap bulan. Koin-koin itu tersimpan rapi di dalam pot besi berdebu di bawah papan lantai gubuk, sama sekali tidak pernah disentuh.
“Karena..” jawabnya dengan suara serak laksana daun kering yang terinjak, “uang itu bukan sebuah hadiah. Uang itu adalah harga dari ketidakhadiranku. Jika aku membelanjakannya, itu artinya aku menerima bahwa hidupku memiliki label harga.”
Sejak hari itu, Tamara tidak pernah lagi melirik ke arah pot besi tersebut. Dia memilih harga diri daripada kenyamanan, memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dengan cara meramu tanaman herbal dan berburu untuk kemudian dibarter dengan penduduk yang tinggal di perbatasan terluar hutan.
Namun, penolakan itu tetap menyisakan satu luka yang terus berdarah di lubuk hatinya.
Bahkan sejak masih kanak-kanak… dia sudah belajar bahwa kasih sayang pun bisa diperjualbelikan.