Skip to content
Go back

an Ugly Bride for Dragon King - Chapter 2

Chapter 2: Gadis di Balik Topeng

Ketika Tamara menginjak usia sembilan belas tahun, dia telah bertransformasi menjadi sesosok gadis yang menyatu dengan alam. Tubuhnya tinggi, ramping, dan memiliki kelincahan alami yang didapat dari kebiasaannya melompati akar pohon dan menghindari dahan-dahan yang rendah. Rambutnya berwarna cokelat gelap yang lebat, dan matanya memiliki warna hazel yang sangat jernih.

Namun, mata kanannya dibingkai oleh tanda lahir bulan sabit hitam.

Untuk melindungi dirinya sendiri—dan yang lebih penting, untuk melindungi jantung para pengembara yang sesekali tersesat di Hutan agar tidak mati ketakutan—Tamara membuat sebuah topeng. Topeng itu sangat sederhana, terbuat dari kulit yang dikeraskan dan dicat dengan warna putih bersih, menutupi tepat separuh wajah bagian kanannya.

Saat dia mengenakan topeng itu, dia terlihat seperti roh hutan yang misterius dan anggun. Namun, saat dia melepaskannya, dia kembali menjadi “si kembar buruk rupa,” pembawa sial dari Desa Oakhaven.

“Tolong… siapa pun… tolong aku,” sebuah suara rintihan lemah terdengar dari balik semak-semak pada suatu pagi yang dingin di musim gugur.

Tamara menghentikan langkahnya, keranjang rajutan setinggi pinggangnya penuh dengan tanaman obat. Dia membenarkan posisi topeng kulitnya, memastikan talinya terikat kuat di belakang telinga sebelum melangkah menembus semak berduri.

Terbaring di dekat sebuah batu besar yang tajam adalah seorang pengawal pedagang. Kakinya robek parah akibat serangan babi hutan. Tubuhnya menggigil, dan kulitnya mulai memucat karena kehilangan terlalu banyak darah.

Tanpa membuang kata, Tamara langsung berlutut di samping pria itu. Gerakannya sangat terlatih, tenang, dan sama sekali tidak ada keraguan. Dia mengambil sekantung salep dari daun perak kering yang tergantung di ikat pinggangnya, lalu mengoleskannya langsung ke luka yang menganga tersebut.

Pria itu menjerit kesakitan, namun dalam hitungan detik, pendarahan hebat itu melambat hingga akhirnya berhenti. Tamara kemudian membalut luka itu dengan kain linen bersih yang dia tenun sendiri. “Kamu… kamu adalah roh pelindung hutan ini,” bisik pria itu dengan napas terengah-engah, matanya fokus menatap topeng putih bersih yang dikenakan Tamara.

“Orang-orang desa memperingatkanku tentang tempat ini. Mereka bilang ada monster yang tinggal di sini.”

“Satu-satunya monster di sini adalah babi hutan tadi,” jawab Tamara dengan nada suara yang tenang, rendah, dan penuh rasa percaya diri. “Apa kamu bisa berdiri?”

“Kurasa bisa,” gumam pria itu, membiarkan Tamara menuntunnya untuk bangkit. Tamara memapahnya berjalan hingga ke tepi jalan besar hutan, tempat jalur perdagangan yang menghubungkan kota-kota besar berada.

Begitu mereka mencapai area yang terkena sinar matahari, pria itu merogoh sakunya dan mengeluarkan se keping koin emas, menyodorkannya kepada Tamara.

“Ambil ini, tolong. Sebagai rasa terima kasihku atas kebaikanmu.”

Tamara menggelengkan kepalanya, melangkah mundur perlahan ke dalam bayang-bayang pohon yang rindang. “Simpan saja emasmu. Cukup ingat bahwa hutan ini yang menyelamatkan nyawamu hari ini, bukan seorang monster.”

Dia berbalik dan langsung menghilang di balik kerimbunan daun, meninggalkan pria itu yang hanya bisa terpaku menatap area kosong di depannya.

Tamara sangat menikmati kehidupan isolasinya. Dia menemukan kedamaian yang mendalam dalam ritme alam. Pohon-pohon tidak pernah menghakimi wajahnya. Burung-burung tidak pernah berbisik-bisik tentang pertanda buruk setiap kali dia berjalan lewat. Dia sudah sangat puas menghabiskan sisa hidupnya dalam pelukan hutan yang sunyi, sepenuhnya mandiri tanpa perlu bergantung pada masyarakat yang telah membuangnya.

Namun, kedamaian adalah sesuatu yang rapuh, sangat mudah dihancurkan oleh keserakahan manusia.

Larut malam itu, saat Tamara sedang menyeduh secangkir teh jasmine di dalam gubuknya, pintu kayu yang tebal mendadak didobrak terbuka dengan kasar. Dua orang pria bertubuh kekar dengan tunik bersulam mewah berdiri di ambang pintu, sementara kuda-kuda mereka terengah-engah di luar. Di dada mereka, terpampang lambang keluarga Lord Alden.

“Tamara,” bentak pengendara yang berdiri di depan, sambil mengangkat sebuah gulungan surat yang disegel dengan lilin merah. “Ayahmu menuntut kehadiranmu di kediaman utama sekarang juga. Kamu harus ikut kami kembali ke Oakhaven.”

Tamara sama sekali tidak bergerak. Dia tetap memunggungi mereka, tangannya tetap stabil saat menuangkan teh ke dalam cangkir.

Sebuah utusan telah tiba—dan keluarganya sedang menariknya kembali masuk ke dalam dunia yang penuh dengan kepalsuan.


Share this post:
Share this post:

Discussion & Reactions



Previous Post
an Ugly Bride for Dragon King - Chapter 3
Next Post
an Ugly Bride for Dragon King - Chapter 1