Chapter 11: Epilog
Satu tahun kemudian, arah bisik-bisik dan desas-desus yang beredar di dalam ibu kota kekaisaran naga telah berubah haluan secara total.
Jauh di dalam lubuk hutan purba yang areanya dilindungi ketat oleh hukum kekaisaran, sebuah rumah pohon yang sangat megah dan luas berdiri dengan kokoh di antara dahan-dahan kokoh pohon elder yang telah berusia ribuan tahun. Asap putih mengepul dengan damai dari cerobong batu rumah tersebut, membawa aroma wangi dari jemuran daun lavender kering serta ramuan salep daun perak yang memenuhi udara sore yang tenang.
Di provinsi bagian luar milik manusia, bisnis tekstil milik Lord Alden dikabarkan telah mengalami kebangkrutan total setelah menyebarnya rumor mengenai bagaimana kejamnya perlakuan pria itu di masa lalu terhadap putrinya sendiri—yang saat ini telah menduduki posisi sebagai Ratu Agung Klan Naga.
Sementara itu, keluarga Julian sang putra gubernur juga telah kehilangan seluruh pengaruh politik mereka di pemerintahan, hidup dalam ketakutan yang luar biasa setiap hari karena takut sewaktu-waktu amukan api dari langit akan turun meratakan kediaman mereka akibat penghinaan publik yang pernah Julian lakukan dulu.
Namun, di dalam Wilayah Kekaisaran Naga sendiri, rakyat dan para menteri tidak lagi membicarakan tentang tanda lahir di wajah sang Ratu sebagai sebuah kutukan atau pertanda sial dari binatang bayangan. Mereka justru membicarakan tanda itu dengan nada penuh kekaguman, rasa hormat, dan takjub yang luar biasa.
Masyarakat naga kini percaya bahwa binatang bayangan purba memang menandai pipi kanan sang Ratu karena hanya dialah satu-satunya manusia yang memiliki jiwa yang cukup kuat dan suci untuk bisa menahan dan menjinakkan amukan hawa panas dari sihir sang Raja Naga.
Tanda lahir yang dulu dijuluki “buruk rupa” itu kini telah bertransformasi menjadi sebuah simbol kekuatan royal dan keanggunan mutlak dari sang Ratu Agung.
Tamara melangkah santai menyusuri area taman bunga istana yang indah, wajah kanannya terpampang polos sepenuhnya di bawah siraman sinar matahari sore yang hangat tanpa ada lagi selembar kain pun yang menutupi. Dia membawa sebuah keranjang rajutan berisi buah dawnpear yang segar di pinggangnya, sementara rambut cokelatnya yang lebat berkibar lembut ditiup oleh embusan angin gunung yang sejuk.
Tiba-tiba, bentangan sepasang sayap hitam yang sangat masif memblokir jalannya sinar matahari dari langit. Seekor naga hitam legam yang sangat besar menukik turun dengan anggun dari angkasa, mengubah wujud manusianya di udara sebelum akhirnya mendarat dengan langkah kaki yang sangat mulus di atas rumput hijau tepat di samping Tamara.
Zain, yang kini mengenakan jubah hitam mewahnya, langsung melangkah lebar mendekat tanpa membuang waktu. Pria itu melingkarkan sepasang lengan kekarnya di sekeliling pinggang Tamara dari arah belakang, memeluknya erat dan menyandarkan dagu tegasnya dengan nyaman di atas bahu gadis itu.
“Kamu pulang lebih cepat dari biasanya,” gumam Tamara dengan nada suara yang lembut, sambil menyandarkan punggungnya dengan nyaman ke arah dada bidang Zain yang selalu terasa hangat dan menenangkan.
“Para menteri tua di ruang sidang tadi sangat cerewet dan membosankan,” jawab Zain dengan nada manja yang serak, sambil mendaratkan sebuah kecupan lembut di sisi leher Tamara.
Pria itu perlahan menaikkan tangan kanannya, menggunakan ujung jari-jari panjangnya untuk menelusuri dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang permukaan tanda lahir berbentuk bulan sabit hitam murni yang membentang di pipi kanan Tamara.
“Apakah kamu masih menganggap bahwa tanda lahir di wajahmu ini adalah sebuah kutukan, Ratuku?” tanya Zain dengan nada suara yang sangat pelan dan dalam, sepasang mata emas cair milik sang raja naga menatap wajah Tamara dari samping dengan binar kasih sayang yang tidak terbatas.
Tamara meletakkan telapak tangan kecilnya di atas tangan Zain yang berada di pipinya, meremas jemari pria itu dengan lembut untuk menekan telapak tangan hangat Zain agar menempel lebih erat ke kulit wajahnya. Dia melemparkan pandangan matanya keluar, menatap ke arah hamparan pemandangan wilayah kekaisaran yang sangat luas, damai, dan indah yang kini mereka pimpin bersama, lalu tersenyum dengan sangat manis.
“Tidak, Zain,” bisik Tamara, sambil memutar sedikit posisi kepalanya ke samping untuk mendaratkan sebuah ciuman tulus di bibir sang Raja Naga.
“Ternyata tanda ini tidak pernah menjadi sebuah kutukan di dalam hidupku. Tanda ini… adalah peta takdir yang digambar oleh langit malam untuk menuntun langkah kakiku agar bisa pulang ke dalam pelukanmu.”
~ Tamat.