Skip to content
Go back

an Ugly Bride for Dragon King - Chapter 10

Chapter 10: Pengantin yang Terpilih

Tamara tetap berdiri kaku di tengah aula utama yang sangat luas dan sepi, sementara kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Zain mengalir masuk ke dalam jiwanya laksana siraman air hujan yang hangat dan menyembuhkan segala luka batinnya.

Sepanjang hidupnya di dunia, dia selalu didefinisikan berdasarkan kekurangan dan ketidaksempurnaan yang ada pada tubuhnya. Di mata ayah kandungnya sendiri, dia hanyalah sebuah beban ekonomi dan liabilitas yang memalukan.

Di mata Julian, dia adalah sosok monster pembawa sial yang menjijikkan. Dan di mata seluruh manusia, dia adalah “si kembar buruk rupa” yang wajahnya harus terus ditutupi oleh lembaran kulit dan kain agar tidak merusak pemandangan mata orang-orang yang menganggap diri mereka sempurna.

Namun, di hadapan makhluk yang paling kuat dan ditakuti di seluruh kolong langit kekaisaran ini, dia bukanlah sebuah aib. Di mata Zain, dia adalah sebuah keselamatan. Tanda lahir di wajahnya bukanlah sebuah kutukan, melainkan lukisan langit malam yang paling indah.

“Aku tidak memiliki tempat untuk pulang di mana pun, Zain,” aku Tamara dengan nada suara yang sangat lirih, hampir berupa bisikan yang rapuh, sementara sepasang matanya menatap kosong ke arah lantai marmer hitam di bawah kaki mereka.

“Aku adalah seorang buangan di dunia manusia, dan aku hanyalah seorang asing di tempat ini.”

Zain sama sekali tidak ragu. Pria bertubuh masif itu langsung menurunkan sedikit posisi tubuhnya, menyejajarkan wajah tampannya tepat di depan wajah Tamara. Dia menggenggam sepasang tangan kecil gadis itu dengan sangat erat, memberikan sebuah sensasi kehangatan yang stabil, kokoh, dan sepenuhnya memberikan rasa aman yang nyata di realitas saat ini.

“Kalau begitu, tetaplah tinggal di tempat di mana kamu dicintai dengan sepenuh hati, Tamara,” ucap Zain, sepasang mata emas cairnya menyala tajam memancarkan sebuah kebenaran mutlak yang tidak memiliki keraguan sedikit pun.

“Kamu tidak perlu lagi memikirkan cara untuk bisa diterima di dalam dunia palsu milik mereka. Tempatmu yang sesungguhnya adalah di sini, bersamaku.”

Tamara menatap lurus ke dalam manik mata emas pria itu, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke bawah—menatap ke arah topeng kulit putih bersih yang kini tergeletak pasrah di atas lantai marmer hitam aula.

Detik itu juga, sebuah perasaan damai yang sangat mendalam dan luar biasa luas meresap masuk ke dalam relung hatinya. Dia menyadari satu hal dengan sangat pasti: mulai hari ini dan seterusnya, dia tidak akan pernah perlu lagi mengikatkan tali kulit itu di belakang telinganya.

Dia tidak perlu lagi menyembunyikan jati dirinya dari dunia. Ras manusia mungkin telah membuang dan menolaknya dengan kejam, namun sang penguasa naga telah menjatuhkan pilihan hidupnya tepat pada dirinya—memilihnya dengan utuh tanpa ada satu pun bagian dari dirinya yang ingin diubah.

Sebutir air mata haru yang sangat jernih akhirnya lolos dari pelupuk mata kanannya, mengalir lambat melewati permukaan tanda lahir berbentuk bulan sabit hitam di pipinya. Tamara tersenyum lebar, seutas senyuman paling bahagia yang pernah dia miliki sepanjang hidupnya, lalu menganggukkan kepalanya dengan mantap.

“Ya, Zain. Aku akan tinggal bersamamu.”

Zain mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat lega, seolah-olah beban berat yang menahan dadanya selama sepuluh tahun penuh kini telah runtuh seketika. Pria itu langsung melingkarkan sepasang lengan kekarnya yang kuat di sekeliling pinggang Tamara, mengangkat tubuh ramping gadis itu sedikit ke atas dari lantai marmer lalu mendekapnya erat-erat ke dalam dada bidangnya yang hangat.

Tamara meledakkan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat lepas dan bahagia—sebuah suara tawa yang sudah tidak pernah terdengar lagi keluar dari tenggorokannya sejak hari di mana Zain diseret pergi dari hutan dulu. Gadis itu membalas pelukan Zain dengan tidak kalah erat, melingkarkan kedua tangannya di sekeliling leher kokoh sang Raja Naga dan membenamkan wajahnya di balik pundak pria itu.

Gadis yang selama ini mereka cap sebagai pembawa kutukan yang menjijikkan… kini telah resmi menjadi satu-satunya ratu yang pernah dipilih oleh sang Raja Naga tertinggi sepanjang sejarah kekaisaran.


Share this post:
Share this post:

Discussion & Reactions



Previous Post
an Ugly Bride for Dragon King - Chapter 11
Next Post
an Ugly Bride for Dragon King - Chapter 9