Chapter 3: Gadis yang Tidak Terbakar
Kane bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi manusia biasa. Dalam sekejap mata, dia sudah keluar dari sungai dan berdiri kokoh di antara gadis yang gemetar itu dan si beruang grizzly yang mengamuk.
Kane sengaja tidak berubah ke wujud naga—dia tahu itu hanya akan membuat si gadis mati ketakutan. Sebagai gantinya, dia melepaskan sedikit saja aura royal naganya. Mata emasnya menyala tajam, dan dia mengeluarkan geraman predator rendah yang membuat udara di sekitar mereka bergetar hebat.
Beruang grizzly itu mendadak mengerem langkahnya. Insting primitif hewan itu langsung mengenali bahwa makhluk di depannya adalah predator yang kastanya beribu-ribu kali lebih tinggi. Sambil melengking ketakutan, beruang raksasa itu langsung berbalik arah dan tunggang-langgang masuk kembali ke dalam hutan yang dalam.
Kane tetap berdiri kaku, memunggungi gadis itu. Dia menjaga jaraknya dengan sangat hati-hati. Kulitnya saat ini sedang memancarkan hawa panas yang tidak kasat mata, sisa dari ketegangannya tadi.
“Menjauh,” peringat Kane, suaranya terdengar kasar dan dalam. “Jangan mendekatiku.”
Kane sudah bersiap mendengar jeritan, melihat gadis itu lari menjauh, atau bersujud memohon ampun padanya. Namun, di luar dugaan, gadis itu justru mengembuskan napas panjang yang sangat lega, lalu menyandarkan tubuhnya yang lelah ke sebatang pohon di dekatnya.
“Astaga, syukurlah,” ucap gadis itu sambil menyeka keringat di dahinya. “Aku pikir aku bakal mati hari ini. Beruang itu sudah menguntitku selama dua mil.”
Kane berkedip, melirik sedikit dari balik bahunya. Gadis ini… sangat tenang. Praktis. Rambut gelapnya diikat asal-asalan, dan mata cokelatnya yang indah memancarkan binar ketangguhan, bukan ketakutan yang tak berdaya. Dia benar-benar berbeda dari putri-putri bangsawan manja yang biasanya dikirim ke istananya.
“Kamu harus pergi sekarang,” gumam Kane, mulai melangkah pergi. “Di sini berbahaya.”
“Hei, tunggu dulu!” panggil Elara. Dia menatap sekeliling hutan yang mulai gelap dengan cemas. “Kita berdua beruntung tidak dimakan tadi, tapi kita tidak boleh diam di sini saja. Ayo cepat pergi dari sini sebelum beruang lain, atau yang lebih parah, buaya sungai datang mendekat!”
Sebelum Kane sempat mencerna ucapan itu, si gadis melesat maju. Tangan mungilnya yang lembut langsung mencengkeram lengan bawah Kane yang polos dengan sangat erat.
Jantung Kane mendadak berhenti berdetak seketika. Rasa takut yang luar biasa dingin menjalar di seluruh pembuluh darahnya. ’Tidak’, pikirnya dalam hati dengan ngeri. ’Gadis ini akan terbakar. Dia akan berubah menjadi abu tepat di depan mataku.’
Kane memejamkan mata, membentengi dirinya sendiri untuk mendengar jeritan menyakitkan yang sebentar lagi akan meledak.
Namun, keheningan justru menyelimuti mereka. Detik demi detik berlalu. S
uasana hutan tetap tenang. Tangan Elara masih melingkar erat di lengan bawah Kane. Kulitnya tidak melepuh. Dagingnya tidak mengeluarkan asap. Tidak ada rasa sakit.
Kane membuka matanya dengan tidak percaya, menatap ke arah tangan kecil yang mencengkeramnya. Dia bisa merasakan denyut nadi gadis itu yang teratur dan hangat di kulitnya. Itu adalah sensasi yang sangat memabukkan, sesuatu yang sudah satu abad tidak pernah dia rasakan.
Elara, yang sama sekali tidak menyadari mukjizat yang baru saja dia lakukan, malah memiringkan kepalanya dan mengernyitkan dahi. Dia melepaskan lengannya, lalu dengan santai menempelkan punggung tangannya ke leher Kane.
“Wah,” gumam Elara, alisnya makin bertautan. “Kamu lagi demam, ya? Kenapa badanmu hangat?”
Kane benar-benar terguncang—sesuatu yang mustahil baru saja terjadi di depan matanya. Untuk pertama kalinya dalam satu abad… Seorang manusia menyentuhnya—dan tetap hidup.