Skip to content
Go back

an Ugly Bride for Dragon King - Chapter 9

Chapter 9: Posisi Raja yang Tak Diinginkannya

Tamara terhuyung mundur kembali ke realitas masa kini, napasnya tertahan di tenggorokan saat dia menatap sosok pria bertubuh masif dan penuh otoritas yang kini berdiri tegak di hadapannya. Bocah lelaki berusia dua belas tahun yang rapuh, kurus kering, dan patah hati yang dulu dia rawat di dalam gua kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi sosok penguasa tertinggi dari seluruh Klan Naga.

“Jadi… pria itu adalah kamu,” bisik Tamara, suaranya bergetar menahan bendungan air mata yang sudah dia simpan selama sepuluh tahun penuh. “Kamu adalah Raja Naga yang kejam itu.”

“Aku tidak pernah memiliki keinginan untuk menjadi seorang raja, Tamara,” jawab Zain, sepasang mata emasnya menyiratkan sebuah duka nestapa yang sangat mendalam dan melelahkan.

Dia melangkah maju satu tapak lagi, lalu dengan lembut meraih sepasang tangan Tamara dan menggenggamnya erat. Kali ini, Tamara tidak mencoba menarik tangannya kembali untuk menghindar.

“Ketika ibuku memaksaku untuk kembali ke istana pusat sepuluh tahun lalu,” Zain mulai bercerita, suaranya terdengar berat dan serak.

“Dia sama sekali tidak menginginkan seorang anak laki-laki yang kembali ke pelukannya. Dia hanya menginginkan sebuah boneka pembunuh yang bisa dia gunakan untuk mengeliminasi saudara-saudara tiriku yang lain agar garis keturunan miliknya bisa mengamankan takhta obsidian sepenuhnya. Aku menolak mentah-mentah untuk menjadi senjata pemuas keserakahannya. Namun, saudara-saudara tiriku, yang sudah diracuni oleh ambisi yang sama kejamnya, mengira aku adalah ancaman terbesar. Mereka merencanakan sebuah jebakan dan melakukan serangan sergap massal di dalam istana.”

Zain mengembuskan napas panjang, tatapannya menerawang ke masa lalu yang berdarah.

“Sebuah perang saudara yang sangat brutal dan berdarah meledak di dalam dinding istana malam itu. Saudara-saudara tiriku bertarung melawan pasukanku dan pasukan ibuku, dan pada akhirnya, mereka semua saling membantai satu sama lain hingga musnah di tengah kobaran api. Ketika fajar menyingsing, akulah satu-satunya orang yang tersisa hidup di tengah tumpukan abu istana yang runtuh. Aku mewarisi sebuah mahkota berdarah yang tidak pernah kuminta, dan seluruh dunia manusia langsung mencap diriku sebagai seorang raja tiran kejam yang tega membantai seluruh keluarga kandungnya sendiri demi takhta.”

Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, menatap ke arah sepasang tangan kecil Tamara yang berada di dalam genggamannya, lalu meremasnya dengan sangat lembut penuh kehati-hatian.

“Pada hari yang sama ketika aku resmi dinobatkan sebagai raja baru, aku langsung mengepakkan sayapku dan terbang secepat mungkin kembali ke Hutan. Aku berlari menuju ke gubuk kita. Aku pergi ke gua tempat kita dulu tinggal. Namun, kamu sudah tidak ada di sana, Tamara. Griselda telah meninggal dunia setahun sebelumnya karena usia tua, dan ayah kandungmu yang serakah itu langsung menyeret tubuhmu kembali ke Oakhaven untuk dijadikan alat tukar dalam kontrak-kontrak bisnis tekstilnya. Aku memikirkan cara untuk bertemu denganmu”

Tamara berkedip, membiarkan sebutir air mata menetes melewati pipi kirinya. “Jadi… dekret tentang sayembara pengantin naga itu… Kamu sama sekali tidak berniat mencari seorang istri dari sana?”

“Tentu saja tidak,” jawab Zain, seulas senyuman tipis yang sangat hangat dan penuh perlindungan terbit di wajah tampannya, sementara mata emasnya berkilat tajam.

“Aku tahu betul bagaimana isi kepala ayahmu yang sangat serakah itu. Aku tahu jika aku mengeluarkan dekret kekaisaran yang menuntut satu putri dari setiap rumah saudagar dan menawarkan imbalan yang sangat besar, otak transaksional milik ayahmu tidak akan pernah mau mengambil risiko mempertaruhkan putri kesayangannya, Tania, untuk dikirim ke tempat yang dia kira sebagai tempat pembantaian. Aku sudah menebak dengan pasti bahwa dia akan memilih untuk mengorbankan dirimu dan mengirimmu kepadaku sebagai bidak demi mendapatkan koin cuma-cuma.”

Zain menatap lurus ke dalam sepasang mata hazel milik Tamara dengan tatapan yang sangat intens. “Aku merekayasa seluruh isi dekret dan sayembara emas itu hanya demi satu tujuan tunggal, Tamara: untuk memancing ayahmu agar dia mengirimkanmu kembali masuk ke dalam pelukanku. Sekarang aku bertanya padamu, apa kamu bersedia untuk menikah denganku, Kakak?”

Tamara menatap wajah pria itu, jantungnya berdegup kencang dengan irama yang tidak beraturan. “Zain… aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku sangat menyayangimu, dan tiga tahun yang kita habiskan bersama di dalam hutan dulu adalah masa-masa paling bahagia dan damai di sepanjang hidupku. Namun, aku bukanlah seorang gadis yang pantas untuk tinggal di dalam istana yang megah seperti ini. Aku tidak tahu cara bersosialisasi dengan kalangan atas. Kaum manusia saja sangat membenci dan mengucilkanku hanya karena tanda lahir di wajahku ini, dan para menteri serta rakyatmu pasti akan sangat membenci kehadiran seorang ratu manusia yang buruk rupa dan dianggap membawa kutukan di dalam istanamu.”

Zain tertawa kecil mendengar ucapan itu, sebuah tawa bariton yang terdengar sangat merdu dan menenangkan yang sepenuhnya menguapkan seluruh reputasi monster kejam yang melekat pada dirinya selama ini. Pria itu memajukan tubuhnya, menarik tubuh Tamara satu jengkal lebih dekat ke arah dadanya.

“Siapa yang mengatakan bahwa kita akan tinggal di dalam bangunan istana batu hitam yang membosankan ini?” bisik Zain dengan nada jenaka di dekat telinga Tamara.

“Wilayah perimeter dari komplek istana kekaisaran ini memiliki sebuah area hutan purba yang sangat luas dan belum pernah terjamah oleh siapa pun selama ratusan tahun. Di dalam hutan itu, selama dua tahun belakangan ini, aku sudah membangun sebuah rumah pohon yang sangat besar dan indah yang menghadap langsung ke arah lembah hijau di bawahnya. Rumah itu sudah kupenuhi dengan semua jenis peralatan meramu tanaman herbal dan akar pohon paling langka yang pernah kamu inginkan. Kita hanya akan datang ke istana batu ini saat ada urusan tugas kekaisaran yang mutlak membutuhkan kehadiran kita. Sisa waktu kita yang lain, kita akan menghabiskannya dengan tinggal di dalam hutan—tempat di mana kita berdua seharusnya berada.”

“Aku tidak pernah memanggil ratusan pengantin manusia itu untuk datang ke istanaku, Tamara… aku hanya memanggil satu nama yang selama ini kurindukan: dirimu.”


Share this post:
Share this post:

Discussion & Reactions



Previous Post
an Ugly Bride for Dragon King - Chapter 10
Next Post
an Ugly Bride for Dragon King - Chapter 8