Skip to content
Go back

an Ugly Bride for Dragon King - Chapter 6

Chapter 6: Pilihan Sang Raja

Raja Zain sama sekali tidak terlihat seperti sosok monster tua yang rapuh dan menyeramkan seperti yang sering digambarkan oleh para penduduk desa dalam dongeng pengantar tidur mereka.

Dia adalah seorang pria muda yang berada di pertengahan usia dua puluh tahun, bertubuh sangat tinggi dengan dada dan bahu yang begitu tegap, seolah-olah dia sanggup memikul beratnya seluruh langit di atas tubuhnya. Rambutnya sehitam batu obsidian istana, dan sepasang matanya memiliki warna emas cair yang menyala tajam dengan pupil yang berbentuk celah vertikal yang presisi.

Dia tidak mengenakan mahkota besar yang berat di kepalanya, melainkan hanya sebuah ikat kepala emas tipis yang melingkari dahinya yang tegas. Kehadirannya memancarkan sebuah gelombang hawa panas alami yang sangat luar biasa, membuat udara di dalam aula terlihat sedikit bergetar dan membiaskan cahaya.

Proses seleksi berlangsung dengan sangat cepat dan cenderung kejam tanpa basa-basi. Satu per satu, gadis-gadis paling cantik dari berbagai provinsi melangkah maju ke depan takhta. Gadis-gadis dengan rambut sehalus sutra dan kulit seputih salju itu membungkuk hormat, menawarkan senyuman paling manis serta membacakan puisi-puisi indah yang sudah mereka hafal selama berhari-hari.

Namun, Zain sama sekali tidak melirik ke arah sebagian besar dari mereka.

“Tidak,” ucap Zain, suara baritonnya yang berat dan serak bergetar rendah hingga membuat permukaan lantai marmer ikut bergetar.

“Terlalu rapuh.” “Selanjutnya.” “Tidak. Sepasang matanya dipenuhi oleh kerakusan akan harta.”

Hanya dalam waktu dua jam, ratusan kandidat pengantin telah dieliminasi dari ruangan tanpa ampun. Ketegangan di dalam aula meningkat drastis hingga mencapai puncaknya. Banyak gadis yang langsung menangis tersedu-sedu saat mereka digiring keluar oleh para pengawal istana, mimpi indah mereka untuk menjadi seorang ratu telah hancur lebur, meskipun keluarga mereka tetap akan mendapatkan koin emas yang dijanjikan.

“Tamara dari Rumah Keluarga Alden,” seru sang utusan kerajaan dengan lantang.

Sebuah gumaman kolektif yang dipenuhi nada mengejek langsung terdengar dari sisa-sisa gadis yang masih berada di barisan belakang. Tamara bangkit dari bangku batunya, merapikan sedikit tunik linen sederhananya yang longgar.

Dia melangkah lebar menyusuri koridor marmer hitam yang panjang menuju ke arah takhta dengan langkah kaki yang sangat stabil dan tidak terburu-buru. Dia tidak gemetar sedikit pun. Dia juga tidak menundukkan kepalanya karena merasa rendah diri atau ketakutan.

Saat dia tiba di lantai paling bawah undakan takhta, dia berdiri tegak tepat di hadapan sosok masif sang Raja Naga.

Zain memajukan posisi duduknya di atas takhta obsidian, sepasang mata emas cairnya langsung terkunci rapat pada wajah bermasker Tamara. Untuk pertama kalinya sepanjang siang hari itu, sang Raja tidak langsung mengucapkan kata “Selanjutnya.” Dia terus menatap gadis itu tanpa berkedip. Pupil vertikalnya tampak sedikit melebar, tatapannya menelusuri garis leher Tamara, pakaian sederhananya yang jauh dari kata mewah, dan akhirnya berhenti tepat pada topeng kulit putih bersih yang menutupi setengah wajahnya.

Tamara mendadak merasakan sebuah sensasi hangat yang asing mulai melapisi telapak tangannya. Kulitnya terasa sedikit meregang di bawah tatapan tajam dan intens dari sang raja.

“Kenapa kamu menutupi wajahmu di hadapanku?” tanya Zain, nada suaranya mendadak turun menjadi lebih rendah dan tenang, namun menyiratkan sebuah getaran aneh yang membuat bulu kuduk Tamara meremang.

“Banyak orang yang mengatakan bahwa wajahku membawa pertanda buruk, Yang Mulia,” jawab Tamara dengan nada suara yang sangat tenang, jernih, dan terdengar sangat lantang di tengah keheningan aula utama.

“Aku mengenakan topeng ini untuk menyelamatkan pandangan mata seisi istana Anda dari sebuah pemandangan yang tidak menyenangkan.”

Sebuah suara tawa mengejek yang tajam mendadak meledak dari barisan gadis-gadis bangsawan yang tersisa di bagian belakang ruangan.

Zain tidak memedulikan tawa itu. Dia perlahan bangkit berdiri dari atas takhta obsidiannya yang megah. Dia melangkah turun melewati anak tangga batu hitam satu per satu, tubuh masifnya berdiri tegak tepat di depan Tamara hingga bayangannya menutupi tubuh gadis itu sepenuhnya.

Hawa panas yang memancar dari tubuh Zain terasa sangat kuat, laksana berdiri di dekat sebuah perapian yang menyala besar di musim dingin, namun anehnya bagi Tamara, hawa itu sama sekali tidak terasa menyiksa atau membakar. Hawa itu justru terasa sangat familier dan nyaman di kulitnya.

“Hanya aku yang berhak menentukan apa yang dianggap sebagai pertanda buruk di dalam kerajaanku,” gumam Zain dengan suara rendah.

Pria itu mengulurkan satu tangannya yang besar dan penuh guratan kapalan. Seluruh orang di dalam ruangan seketika menahan napas mereka, sepenuhnya mengira bahwa sang Raja Naga akan mencengkeram topeng itu dengan amarah lalu melemparkannya ke lantai atau mendorong tubuh Tamara hingga tersungkur.

Namun, di luar dugaan semua orang, jemari panjang Zain justru menyentuh ujung tali kulit topeng itu dengan sangat lembut. Dengan satu gerakan yang sangat pelan dan penuh kehati-hatian, dia menarik topeng putih itu lepas dari wajah Tamara, mengekspos seluruh bagian wajah kanan gadis itu di bawah siraman cahaya kristal aula istana yang terang benderang.

Tanda lahir berbentuk bulan sabit yang hitam pekat itu kini terpampang nyata tanpa ada lagi yang menghalangi.

Gelombang suara terkesiap ngeri langsung memenuhi seisi ruangan. Beberapa gadis bahkan spontan menutup mulut mereka dengan tangan karena merasa jijik dan takut.

Namun, Zain sama sekali tidak berkedip. Dia tidak menunjukkan raut wajah muak, dan dia juga tidak melangkah mundur. Dia tetap berdiri kokoh di tempatnya, menatap lekat-lekat ke arah tanda hitam yang membentang di pipi kanan Tamara. Kemudian, dengan sangat perlahan, dia mengangkat ibu jarinya, menempelkan permukaan kulit jarinya yang hangat dengan sangat lembut tepat di tengah-tengah tanda lahir bulan sabit tersebut. Sentuhannya terasa sangat halus, seolah-olah dia sedang menyentuh sebuah benda pusaka yang sangat berharga dan rapuh.

Sebuah senyuman tulus yang sangat tampan mendadak merekah di wajah tegas sang Raja Naga. Dia memutar tubuhnya menghadap ke arah utusan agung kekaisaran.

“Kosongkan aula ini sekarang juga,” perintah Zain, suaranya menggelegar penuh otoritas mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. “Seleksi pengantin telah resmi berakhir hari ini. Aku sudah menjatuhkan pilihanku. Gadis inilah yang akan menjadi ratu kalian.”

Aula utama seketika meledak ke dalam kebingungan yang luar biasa.

Orang-orang hanya bisa saling pandang dengan wajah pucat pasi sambil membisikkan satu kalimat yang sama: “Raja telah memilih… sang pengantin buruk rupa.”


Share this post:
Share this post:

Discussion & Reactions



Previous Post
an Ugly Bride for Dragon King - Chapter 7
Next Post
an Ugly Bride for Dragon King - Chapter 5