Raja yang Mengenalnya
Dalam hitungan menit, aula utama yang tadinya dipenuhi ratusan manusia kini telah benar-benar kosong melongpong. Sepasang pintu besi raksasa di ujung ruangan dibanting menutup dengan keras oleh para penjaga, menyisakan hanya Tamara dan sang Raja Naga yang kini berdiri berdua di tengah ruangan yang sangat luas dan sunyi.
Tubuh Tamara benar-benar kaku bak batu. Pikirannya, yang biasanya selalu bekerja dengan sangat tajam dan penuh perhitungan logis, saat ini benar-benar mengalami kebuntuan total. Dia menatap pria tinggi di depannya, tangannya secara tidak sadar bergerak naik untuk menyentuh permukaan pipinya sendiri—tepat di area di mana ibu jari Zain baru saja menempel beberapa saat yang lalu. Kulitnya masih menyisakan sensasi kesemutan yang hangat dari sentuhan pria itu.
Ini sama sekali tidak sesuai dengan rencana yang sudah dia susun dengan matang di kepalanya. Dia seharusnya ditolak hari ini. Dia seharusnya saat ini sudah berada di luar gerbang istana, bersiap untuk berlari menuju ke arah pegunungan utara untuk memulai hidup barunya yang bebas.
“Kenapa?” tuntut Tamara, suaranya sedikit bergetar saat dia mengambil satu langkah mundur, menatap lurus ke arah sepasang mata emas pria itu dengan perpaduan rasa bingung sekaligus waspada.
“Kenapa Anda memilihku, Yang Mulia? Anda baru saja menolak ratusan gadis tercantik dari seluruh penjuru provinsi. Mereka tidak memiliki cacat sedikit pun di tubuh mereka. Mereka tidak membawa pertanda buruk atau kutukan apa pun seperti diriku. Aku hanyalah seorang gadis buangan yang dikucilkan dari peradaban. Ayah kandungku sendiri bahkan mengirimku ke tempat ini hanya sebagai bahan lelucon agar dia bisa mendapatkan hadiah gratis dari kerajaan Anda!”
Zain tidak menunjukkan raut wajah marah sama sekali setelah mendengar nada bicaranya yang menuntut. Pria itu justru mengambil satu langkah maju yang lambat untuk kembali mengikis jarak di antara mereka, sepasang mata emas cairnya menatap wajah Tamara dengan sebuah binar emosi yang sangat mendalam dan bersifat personal—sebuah tatapan yang membuat Tamara merasa aneh karena dia tidak bisa membaca artinya.
“Kamu benar-benar masih belum bisa mengenaliku, ya?” tanya Zain dengan nada suara yang sangat lembut. Seluruh intonasi suara yang mengerikan, dingin, dan kejam milik seorang raja tiran yang sering diceritakan orang-orang kini telah lenyap sepenuhnya dari bibirnya, digantikan oleh sebuah nada suara yang terdengar sangat familier di telinga Tamara—nada suara yang laksana gema dari sebuah mimpi masa lalu yang sudah lama dia kubur dalam-dalam di benaknya.
“Mengenalimu?” bisik Tamara dengan dahi berkerut.
Zain menghentikan langkah kakinya tepat satu jengkal di depan tubuh Tamara. Dia sedikit memiringkan kepalanya, sebuah senyuman kecil yang tampak hangat dan sedikit jahil tersungging di sudut bibirnya.
“Apakah kamu sudah benar-benar melupakan janjimu… Kakak?”
Sepasang mata hazel Tamara mendadak melebar sempurna karena rasa syok yang luar biasa.
Seluruh persendian tubuhnya terasa lemas. Kata ‘Kakak’ bukanlah sebuah kata yang pantas atau biasa diucapkan oleh seorang raja agung kekaisaran kepada seorang gadis manusia biasa. Kata itu adalah sebuah kata rahasia yang berasal dari sebuah potongan kecil masa lalunya yang rusak.
Seketika itu juga, ingatan Tamara seolah-olah dipaksa berputar mundur dengan sangat cepat, menembus batasan waktu selama sepuluh tahun, membawanya kembali masuk ke dalam lubuk terdalam Hutan Whispering yang sunyi dan dingin.
Bayangan sesosok anak lelaki kecil yang tubuhnya penuh darah dan tampak sangat rapuh mendadak terlintas dengan sangat jelas di pelupuk matanya.